Ke Singapura Sendiri dan Digelandang Imigrasi (Seri 3 dari 3 Tulisan)

0
15

Ke Singapura lagi? Demikian ucapan istri saat saya bilang mau nonton Sea Games di Singapura. Ya, 2015 silam saya dapat rejeki untuk tiga kali ke Singapura. Pertama Bonus dari Kantor, kedua dapat Tiket murah bareng istri dan kakaknya dan yang ketiga Saat menonton Timnas di Sea Games ke 28.

Meskipun ini adalah yang ketiga dalam tahun tersebut, tetap saya harus deg-degan. Saya belum pernah menginap di Singapura sendiri. Untuk menghemat biaya, hotel backpacker dengan model dorm jadi pilihan. Setelah browsing sana sini akhirnya Gusti BNB yang berada disekitaran MRT Lavender jadi pilihan. Mau tahu alasannya? Yang punya dan yang jaga bisa Bahasa Indonesia. Kabarnya mereka keturunan Medan.

Hampir Batal dan Digelandang Imigrasi

Jauh hari saya sudah memesan jetstar untuk berangkat. Penerbangan terakhirnya jam 10 malam dari Jakarta,  bisa ijin jam 4 dari kantor. Rencana keberangkatan ke Singapura hampir saja batal. Beruntung Indonesia berhasil menang di pertandingan terakhir, Timnas pun lolos semifinal.

12 Juni 2015 saya pun berangkat, dengan menggunakan Damri dari Rawamangun. Pukul 00.45 waktu Singapura saya mendarat. Usai makan saya pun memilih ke Terminal 2, Tepatnya di gate E7. Kursi panjang buat tiduran jadi pilihan. Karena seharian kerja, kantukpun tak tertahan. Sampai sebuah tepukan membangunkan saya. Njrit operasi Imigrasi. Saat dari Myanmar dulu teman saya sampai ngumpet di toilet demi menghindari Razia ini.

Di Changi setiap jam 03.00 selalu ada pemeriksaan, penumpang yang tidak punya boarding pas buat penerbangan esok hari harus keluar. Saya menunjukan tiket keberangkatan saya kepada pak X yang berusia 25 tahun. Saya menunggu MRT pertama alasan saya. Lolos? Belum. Pak Y yang mungkin komandannya mengharuskan saya keluar imigrasi. Pasport saya difoto, saya pun keluar imigrasi. Tapi ditolak. Iyalah, itu Imigrasi T2, saya kan dari T1. Akhrinya balik kanan lah saya. Buat ke skytrans. Jam 3 skytrans belum jalan, dan dari kejauhan pak Y melihat saya. Dengan peci merah putih pastilah saya mudah dikenali. Saya jelasin, akhirnya disuruh jalan ke T1. Pffhttt

Sebenarnya tidur di luar Changi pun tetap enak, namun akses Wifinya tak secepat kalua kita di dalam. Tempat menginap paling enak di Changi kalu di luar adalah di lantai 2 keberangkatan dekat tempat bermain anak.

Mencoba Kamar Dorm di Singapura

Karena tak bisa tidur malamnya, pagi harinya saya kesiangan. Sekeliling sudah ramai lalu lalang orang. Hari itu 13 Juni, sore harinya Timnas akan bertemu Thailand di Semifinal. Saya pun menuju MRT untuk ke Kallang. Sebelum ke Singapore National Stadium saya mampir ke dorm sekitaran Geylang. Kawan saya menginap di situ. Sangat tidak rekomended buat saya. Kamar tingkat dari besi membuat saya dengan bobot 80 KG harus bersusah payah saat naik. Pasti akan menganggu mereka yang di bawah. Beruntung hostel saya yang di Lavender ranjangnya terbuat dari kayu. Kokoh.

Berangkat Sendiri, di Stadion Rame – Rame

Sepakbola menyatukan, jika semalam di Changi sendirian. Saat akan ke Singapore National Stadium saya bertemu dengan banyak suporter Indonesia termasuk suporter Thailand dan Myanmar yang juga akan bermain di partai semifinal. Bahkan di Hostel saya semuanya yg menginap adalah orang Indonesia yang bekerja di Batam. Tapi Karena Indonesia kalah, yang tadinya mereka akan extend sampai final jadilah pulang duluan. Kecuali saya, Karena saya sudah terlanjur cuti kantor.

Sambil menunggu perebutan tempat ketiga, explore Singapura saya lakukan sendirian.

Jalan jalan Sendirian, Salah Baca Peta Sampai Ketemu Warteg

Enaknya jalan sendirian, itu kalau nyasar tidak merasa bersalah sama yang lain. Sudah dua kali saya jalan sendiri dan nyasar. Nyasar dalam antrian salah arah gara gara salah lihat peta. Pertama saat dari Mustafa Centre ke MRT Farrer Park. Saya justru jalan menjauh, dan akhirnya Karena batre low bat naik taksi sampai River Valley Road. Yang kedua saat dari Lavender mau ke Bugis, saya naik bus justru yang ke arah Geylang.

Kalau berani kotor itu baik, berani nyasar itu hebat. Selama beberapa hari di Singapura. Ananas Café yang ada di beberapa stasiun MRT jadi andalan saya untuk mengisi perut. Murah, cukup 1-2 $ saja.

Tapi ternyata ada nggak enaknya juga travelling sendirian, lebih cepat capek dan bawaannya pengen balik hotel buat tidur. Kalau kamu, suka travelling sendirian atau rame – rame.

Arista Budiyono
bisa ditemui di akun @infosuporter

Sumber: Isi Buku Tamu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here