My Favourite Android Softwares

0
16

Meski judulnya berbahasa Inggris, namun artikel ini tidak akan berbahasa Inggris. Kini salah satu saat di mana saya kesulitan dalam memilih kata. Piranti Lunak Android Kegemaran Saya? Piranti Lunak Android Kegemaranku? Piranti Lunak Android Favorit Saya? Piranti Lunak Android Favoritku? Software Android Kegemaran Saya? Software Android Kegemaranku? Tiada satu pun yang mengena di hati.

Sepertinya, kini saya telah memasuki fase enggan mencoba-coba piranti lunak. baik di komputer, terlebih lagi di hape. Ketika memerlukan untuk memasang aplikasi tertentu, alih-alih mencobanya sendiri, saya lebih memilih untuk membaca ulasan dari orang lain.
Nah, artikel ini ditujukan sebagai ulasan singkat dari pengalaman saya menggunakan beberapa piranti lunak di hape Android yang semoga bisa menjadi rujukan bagi para pembaca.

Sekedar untuk diketahui, saya memakai hape Xiaomi Mi 4c bersistem operasi MIUI 8 yang telah di-root. Abaikan saja mereknya dan camkan perihal rooted-nya, karena ada beberapa aplikasi yang saya pakai bergantung pada apakah hape telah di-root atau belum. Enjoy.

Opera Mini

Opera Mini

Opera Mini adalah peramban pada telpon genggam yang berdaya rendah (low-end). Ia menyiasati lemahnya kemampuan hape dan rendahnya kecepatan jaringan dengan cara memindahkan seluruh proses mengolah laman web ke server Opera. Server ini mengambil laman yang diminta dan memampatkannya sebelum dikirim ke Opera Mini. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Saya mengenal Opera Mini sejak saya mengenal telepon genggam. Sebagai seorang pribadi yang kesulitan mengakses jaringan internet, baik karena faktor cakupan jaringan seluler ataupun karena masalah harga langganan data, Opera Mini terbukti sangat membantu.

Pada awalnya, Opera Mini tidak bisa mengolah laman web yang dinamis. Namun kini Opera Mini bisa meramban situs dinamis macam YouTube dan situs-situs belanja seperti Tokopedia atau Bukalapak dengan nyaman. Memang tidak semua situs dapat dibuka oleh Opera Mini secara sempurna, namun setidaknya telah memenuhi sebagian besar keperluan saya dalam berinternet.

Satu lagi yang patut diingat, server proksi Opera tidak hanya memungkinkan kita mengakses situs-situs yang kena blok, namun juga merekam semua jejak berinternet kita selama menggunakan Opera Mini. So, that’s it.

Opera Mini bisa diunduh dari Google Play Store.

Telegram

Telegram Messenger

Telegram adalah salah satu dari sekian banyak aplikasi perpesanan internet.
Kala itu pertengahan 2014 menuju 2015. Saya lumayan aktif menggunakan WhatsApp, hingga santer tersiar kabar perihal pembelian WhatsApp oleh Facebook. I didn’t like Facebook. Jadi ketika ramai berita soal pembelian tersebut dan ada yang menyinggung aplikasi alternatif, yang di antaranya adalah Telegram, seketika saya mencobanya.

It was quiet on Telegram. Well, hingga kini 3 tahun berselang nyatanya Telegram tidak kunjung ramai. At least in my bubble.
Meski demikian, saya menyukai Telegram. Pertama, karena bisa diakses dari mana saja dan menggunakan apa saja. Kedua, karena selalu mendapat pembaharuan yang meningkatkan pengalaman bertelegram. Ketiga, karena dunia botnya yang terbuka dan relatif ramai. Masih banyak alasan lain, namun tiga itu yang utama.

Jika Anda belum mencoba Telegram, saya sarankan untuk segera mencobanya. Jika ternyata belum memiliki kontak di Telegram, silakan baca artikel saya yang lalu: Kumpulan Link Grup Telegram.

Telegram bisa diunduh dari Google Play Store.

Yalp Store

Yalp Store

Sejak pertama bisa rooting hape Android, saya telah tidak menggunakan Google Play Store (PS). Mungkin terdengar aneh jika seseorang menggunakan Android yang notabene produk Google, namun tidak memasang PS.

Mengapa tidak memasang Google Play Store?

Awalnya sih karena hape yang dulu saya miliki lumayan tidak bertenaga, jadi niatnya ingin membuang aplikasi yang tidak krusial. Namun akhirnya terbiasa hingga kini.

Lalu bagaimana jika ingin mencari atau mengunduh software buat hape?

Awalnya jika saya mencari, mengunduh atau memutakhirkan piranti lunak untuk android, saya melakukannya dari komputer menggunakan bantuan raccoon. Namun semakin kini raccoon semakin tidak menyenangkan untuk digunakan. Sampai akhirnya saya menemukan Yalp Store.

Yalp Store berukuran kecil dan tidak bergantung pada apapun. Tidak pada Google service, bahkan kita tidak perlu memiliki akun Play Store. It’s actually amazing. Entah jika berkenaan dengan aplikasi berbayar, namun karena saya tidak pernah membeli aplikasi dari Play Store, Yalp dirasa telah sangat mencukupi.

Yalp Store bisa diunduh dari F-Droid atau GitHub.

Termux

Saya sebenarnya jarang menggunakan terminal di Android. Namun terminal emulator pasti saya pasang setelah rooting hape sendiri. Tidak banyak yang bisa disampaikan mengenai termux selain it’s a swiss army knife. Ukurannya kecil namun kemampuannya besar.

Tanpa terasa, termux berperan sangat besar dalam menekan jumlah piranti lunak yang saya pasang di hape kesayangan. Misal, perlu downloader? Oh, ternyata bisa memasang wget atau curl di termux. Ingin mengunduh dari YouTube? Wah, ternyata youtube-dl ada dalam repo termux. Sebagai bonus, youtube-dl bisa mengunduh dari banyak situs selain YouTube. Dan masih banyak lagi software yang dapat dipasang oleh termux. Memang aplikasinya terbatas pada aplikasi CLI, namun sebagai orang yang sehari-hari menggunakan Linux, that’s not a problem.

Termux bisa diunduh dari Google Play Store.

VLC

VLC ketika memutar video

Ada pemeo, “Jika VLC tidak bisa memutarnya berarti itu bukan berkas media”.
Android tidak kekurangan piranti lunak pemutar multimedia, namun jika Anda menginginkan versi FLOSS (free, libre and open source software) dan bermutu terjamin, VLC adalah jawabannya.
Jadi, ya, tidak banyak yang bisa dikatakan. Pasang saja VLC dan lupakan soal format multimedia. Jika VLC tidak bisa memutarnya, mungkin berkas media tersebut memang tidak layak untuk dimainkan.

VLC bisa diunduh dari Google Play Store.

MiXPlorer

MiXPlorer ketika meramban sarana penyimpanan hape

Seketika kita rooting hape Android, seketika itu pula kita memiliki akses ke setiap pelosok sarana penyimpanannya. Umumnya penata berkas (file manager) bawaan dari pabrikan hape hanya memiliki kemampuan terbatas dan tidak bisa mengakses root directory.

Saat awal mengenal Android, saya biasa memakai ES File Explorer. Namun seiring naik versi, ES semakin gendut. Ia memasukkan banyak fitur yang (saya rasa) tidak penting dan sekedar marketing gimmick. Setelah bertanya ke sana dan ke mari, akhirnya menemukan dan menetap menggunakan MiXPlorer. Ia memang tidak FLOSS, namun ukurannya kecil, tidak membebani hape meski fiturnya berlimpah, dan tentunya gratis.

MiXPlorer tidak sekedar berguna untuk menelusuri isi pemyimpanan hape, namun juga bisa untuk menyambungkan hape ke komputer, pembaca buku elektronik, penampil gambar, pemutar media, dan masih banyak fitur lain yang tidak saya ingat.

MiXPlorer bisa diunduh dari XDA.

Firefox

Firefox Mobile

Untuk 90% kegiatan berselancar di hape, saya menggunakan Opera Mini. Meski kini Opera Mini bisa membuka banyak situs dinamis, tetap saja ada beberapa yang gagal untuk dibukanya. Jika menemui situs seperti itu, saya beralih menggunakan Firefox Mobile.
Bagi saya pribadi, menggunakan Firefox bukan sekedar berdasar alasan teknis, namun juga filosofis. Saya melihat Firefox sebagai pengusung keterbukaan di internet.
Saya menggunakan Firefox di desktop, juga menggunakan Firefox di hape. No question. Tidak ada fitur pada peramban lain yang tidak bisa saya temukan di Firefox. Well YMMV, bisa jadi karena kegiatan berinternet saya sederhana saja.

Firefox bisa diunduh dari Google Play Store.

AFWall+

AFWall+

Alkisah, ketika pertama memiliki hape Android, saya memasang aplikasi Facebook (FB) di hape. Bukan akun pribadi sih, tapi akun tempat kuli yang mewajibkan upload berkas hasil kerjaan melalui FB. Sejenak selepas memasang FB di hape, saya buka FB di komputer. Luar biasa! Mendadak banyak permintaan pertemanan! Ternyata ketika memasang FB di Android, aplikasi FB ini memiliki akses ke kontak dan melahap seluruh isinya kemudian sinkron ke internet. Fuck this shit.

Memang kala itu saya masih menggunakan Android 4 yang belum memiliki apps permissions. Dan tentunya karena masih awam mengenai Android, jadi tidak waspada jika hal seperti ini dapat terjadi.
Kini, saya selalu pastikan aplikasi yang baru terpasang tidak otomatis memiliki akses dewa. Ente pan aplikasi senter, kenapa pengen akses ke kontak atau internet?

AFWall+ to the rescue. Saya buta soal jaringan, dan tidak pernah mengotak-atik firewall ketika menggunakan desktop Linux. Namun saya dapati AFWall+ ini penggunaannya cukup mudah dipahami. Kini saya bisa menentukan aplikasi mana sajakah yang boleh terhubung ke internet dan mana yang tidak. O ya, sebagai bonus, AFWall+ juga bisa digunakan untuk memintasi pemblokiran oleh operator seluler.

AFWall+ bisa diunduh dari Google Play Store.

K-9 Mail

Tampilan K-9 ketika membuka inbox

Sebenarnya saya tidak mengandalkan email untuk berkomunikasi. Namun demikian, saya memiliki banyak akun email. Lalu untuk apa? Biasanya sih hanya untuk mendaftar di layanan-layanan tertentu di internet 😂 Bahkan, banyak yang cuma dibuat untuk mendaftar di toko-toko online macam Lazada, Tokopedia atau Bukalapak. Jadi akun tersebut menjadi tempat sampah email-email promosi dari marketplace. Am I genius or what?

Memiliki banyak akun email dari banyak lanyanan penyedia email, maka timbullah kerumitan untuk mengelolanya. Tidak mungkin jika membuka email tersebut satu-per-satu menggunakan peramban.
Di desktop saya menggunakan Thunderbird untuk mengelola email. Tinggal buka Thunderbird, maka ia akan menyelaraskan semua isi akun di lokal dengan di internet.

Bagaimana jika ingin mengakses email di Android?
Jawabannya adalah K-9 Mail. Well, tidak semua akun email bisa diakses oleh pengelola email seperti Thunderbird dan K-9. Namun selama akun email tersebut memiliki layanan IMAP atau POP3, kemungkinan besar K-9 akan sanggup menanganinya.
FYI, saya cenderung menghindari penyedia layanan email yang hanya bisa diakses melalui peramban web atau aplikasi Android mereka sendiri.

K-9 Mail bisa diunduh dari Google Play Store.

Moon+ Reader

Moon+ Readr

Saya suka membaca. Sayangnya buku butuh perawatan dan ruang penyimpanan. Menakjubkannya, kini ada buku elektronik (ebook). Ribuan buku bisa disimpan dalam hape yang hanya sebesar genggaman tangan. Kini kita benar-benar telah berada pada zaman di mana ilmu pengetahuan ada dalam genggaman tangan. Yang dibutuhkan hanyalah niat untuk membaca. Ehm, dan uang untuk membeli ebook. Tapi ini cerita untuk lain hari.

Di desktop saya lebih menyenangi membaca buku elektronik dalam bentuk PDF. Tata letak dan segalanya sangatlah mirip dengan buku fisik. Untuk membaca PDF dalam desktop GNU/Linux tidaklah susah, terdapat banyak piranti lunak yang bisa membuka berkas PDF.
Namun lain cerita jika menginginkan membaca buku elektronik di hape. Layar hape ukurannya kecil, misal Mi 4c yang saya miliki hanya berdiameter 5 inchi. Membaca PDF di ukuran layar sekecil ini tidaklah nyaman. Untungnya, kini banyak buku elektronik yang diedarkan dalam bentuk EPUB. Buku elektronik dalam bentuk EPUB bisa menyesuaikan tampilan berdasar ukuran layar penampilnya. Cocok.

Seperti biasa, saya lebih mengedepankan piranti lunak yang FLOSS. Jika tidak ada, bolehlah asal gratis. Sayangnya untuk pembaca buku elektronik di Android, saya belum menemukan yang FLOSS atau benar-benar gratis. Jadi ya kali ini standarnya lebih diturunkan, tiada mengapa bukan FLOSS atau tidak benar-benar gratis asal tidak perlu bayar 😂
Memperkenalkan Moon+ Reader. Moon+ Reader ini ibarat VLC-nya buku elektronik, ia bisa membaca hampir semua format buku elektronik. Jika Moon+ Reader tidak bisa membaca suatu buku elektronik, mungkin memang buku itu tidak layak baca.
Jika ada rezeki lebih, belilah aplikasi ini. Jika belum ada, tetap pasang.

Moon+ Reader bisa diunduh dari Google Play Store.

WPS Office

Ini sebenarnya bukan aplikasi yang sering saya pakai. Bahkan bisa dibilang yang paling jarang digunakan. Saya memasangnya di hape hanya sekedar “just in case“. Siapa tahu sewaktu-waktu butuh membuka atau membuat berkas Microsoft Office. Hanya itu.

Lalu mengapa memilih WPS Office? Bukan aplikasi Office lainnya? Bukankah Microsoft juga merilis aplikasi Office untuk Android?
Jawabannya pendek saja, karena WPS ini aplikasi Office yang pertama kali saya kenal 😅
Tidak ada alasan teknis sih sebenarnya. Malah saya rasakan WPS ini cenderung berat. Tapi karena selama ini cukup bisa diandalkan, dan juga saya enggan untuk mencoba aplikasi Office lain, jadilah WPS saya masukkan dalam daftar di artikel ini.

WPS Office bisa diunduh dari Google Play Store.

Tampilan WPS Office ketika membuka berkas excel

Demikian software-software yang saya pasang di Android. Ada yang selalu digunakan tiap hari, ada juga yang dipasang sekedar berjaga-jaga siapa tahu dibutuhkan. Ada yang gratis, ada yang freemium, ada juga yang adware.
Semoga membantu bagi siapa yang sedang mencari-cari piranti lunak apa yang perlu dipasang di hape Android Anda.

Sumber :kabayankababayan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here